Minggu, 15 Januari 2017

Bunton Rahtawu



           Hai teman-teman! Terima kasih sudah mengunjungi blog ku. Selamat datang di artikelku yang pertama. Sebagai pembuka, kali ini aku akan berbagi sebuah pengalaman menarikku. Semoga dengan membaca artikel ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan teman-teman. Selamat membaca…^_*
                 
           Kota Kudus terkenal dengan sebutan kota Kretek(rokok). Ya, tak asing lagi karena kota Kudus merupakan penghasil rokok terbesar di Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan Kudus kaya akan hasil alam, salah satunya adalah tembakau yang merupakan bahan dasar dari pembuatan rokok. Produksi rokok ini  sangat mendukung perekonomian kota Kudus. Tak hanya itu kota Kudus juga memiliki pesona alam yang indah. Letak geografis kota Kudus yang dikelilingi oleh wilayah pegunungan mengakibatkan kota ini kaya akan wisata alam yang menakjubkan. Kota yang terkenal dengan Menara Kudus-nya ini memiliki banyak tempat wisata yang menarik dan cukup populer dikalangan masyarakat Kudus sendiri dan sekitarnya. Banyaknya obyek wisata di Kudus ini juga memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat Kudus.
Pagi yang cerah mengawali hari kami yang penuh ceria. Kami anak-anak Omah Dongeng Marwah mengadakan perjalanan ke Rahtawu. Tepatnya ke Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Wisata alam yang terkenal dari Rahtawu adalah puncak songolikur(29) yang ketinggiannya mencapai ± 1602 mdpal. Dari atas puncak ini kita dapat menikmati panorama alam kota Kudus yang indah dengan udaranya yang sejuk dan segar. Gunung Rahtawu ini memiliki beberapa mata air yaitu sendang Pakel, Banyu Umub, dan sendang Bunton yang menjadi tujuan kami.  Kami memulai perjalanan dari rumah sekitar pukul 6 pagi. Jika berangkat dari alun-alun simpang 7 akan menempuh waktu kurang lebih 90 menit. Kami berangkat kesana menggunakan sepeda motor. Senangnya hati kami menikmati perjalanan panjang tersebut sambil memandangi alam kota kecil dan padat yang indah ini. Saat  memasuki wilayah desa Rahtawu, kita akan dikenai biaya sebesar 2000 rupiah per orang guna pembangunan dan perawatan obyek wisata di Rahtawu. Sampailah kami di Rahtawu pada pukul 7 lebih seperempat.  Namun perjalanan kami tidak berhenti disini. Kami harus mendaki gunung Rahtawu yang merupakan perbatasan kota Kudus dan Jepara.
Kami berangkat dari Dukuh Semliro menuju puncak gunung Rahtawu. Sebelum itu kita akan dikenai biaya sebesar 2000 rupiah per orang. Kami pun mulai berjalan dengan langkah-langkah kaki penuh semangat. Diperjalanan menuju puncak kami melihat banyak pepohonan dan perkebunan serta warga sekitar Rahtawu yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Tidak heran lagi karena daerah dataran tinggi seperti ini sangat cocok untuk digunakan sebagai lahan perkebunan yang telah menjadi sumber penghasilan bagi warga sekitar. Tanaman yang terdapat disana diantaranya adalah kopi yang memang merupakan tanaman yang bisa hidup di daerah dengan udara yang sejuk. Selain itu terdapat padi, jagung, ketela, dll.
Menit demi menit kami lalui. Namun perjalanan kami menuju puncak masih cukup panjang. Sedangkan kaki kami pun sudah mulai lelah untuk melangkah. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari menarik napas menghirup udara pegunungan yang sejuk. Sesekali kami mengambil beberapa gambar pemandangan alam dan berfoto bersama. Namun ini masih belum seberapa. Nantinya kami akan merasakan kepuasan yang sesungguhnya ketika sampai di tujuan. Jalanan yang cukup sempit membuat kami sering kali berhenti sejenak dan menepi ketika harus berpapasan dengan pengendara motor yang membawa hasil panen baik yang akan  naik gunung  maupun turun gunung. Kami pun harus bisa berbagi dan bersabar. Sesekali kami pun menyapa warga sekitar. Kami membalas keramahan mereka dengan senyum perkenalan. Keramahan dan kesopanan mereka membuktikan bahwa masyarakat Kudus memang sangat ramah dan sopan.
Daerah Rahtawu memang dianggap sebagai tempat yang dikeramatkan karena konon kisahnya daerah gunung Rahtawu menjadi tempat bertapanya para dewa yang merupakan leluhur Pandawa. Oleh karena itu di sepanjang perjalanan kami juga banyak menjumpai petilasan atau tempat pertapaan dengan mengambil nama tokoh-tokoh pewayangan Jawa yang hingga saat ini masih digunakan.
Di perjalanan kami sering menjumpai hewan-hewan kecil seperti ulat, laba-laba, dan kaki seribu. Tidak mengherankan lagi karena kita berada di alam liar. Jadi, ketika kita berada di alam liar seperti di pegunungan yang dikelilingi dengan hutan kita perlu berhati-hati dan waspada dengan keadaan sekitar. Namun kita juga tetap harus menjaga tanpa merusak alam ataupun mengganggu satwa dan makhluk hidup disana. Satu lagi yang tidak seperti biasanya kami lihat yaitu jenis siput dengan ukuran cangkang yang hanya sebesar biji jagung dan badan yang panjang membentuk ekor namun berlendir. Tetapi kami tidak tahu apa jenis siput tersebut. Yang pasti kecil namun cantik dan lucu.
Kami mampir sejenak ke sebuah warung yang berupa gubuk kecil. Kami membeli beberapa gorengan hangat dan makan bersama. Rasa letih kami pun perlahan mulai hilang. Di sepanjang istirahat, kami berjumpa dengan para pendaki yang baru saja selesai berkemah dan akan turun gunung. Tampak dari raut wajah mereka yang gembira habis dari puncak membuat kami semakin tidak sabar untuk sampai kesana. Kini energi dan semangat kami sudah bertambah. Saatnya kami melanjutkan perjalanan yang tinggal setengah lagi.
Senangnya hati kami ketika hampir sampai ke tempat tujuan. Kami semakin dekat dan hampir menggapai awan putih yang membentang di langit. Pemandangan alam sekitar pun semakin indah. Tak lupa kami mengabadikannya dengan berfoto bersama. Saat itu, ada salah satu kawan kami yang hampir saja jatuh ke jurang ketika akan mengambil foto. Syukur ia sempat berpegangan dengan rumput disampingnya sehingga ia tidak jadi jatuh ke jurang. Oleh karena itu kita juga harus berhati-hati, jangan sampai kesenangan mengantarkan kita dalam bahaya. Salah satu teman kami yang lain juga sudah menegeluh karena lelah. Dari awal perjalanan ia terus saja mengeluh bahkan ketika sampai di separuh perjalanan ia justru ingin kembali pulang. Ini tentunya tidak baik untuk ditiru. Jika kita mengerjakan sesuatu dengan disertai keluh kesah pekerjaan akan terasa sangat berat dilakukan. Sebaliknya jika kita mengerjakan dengan ikhlas disertai rasa senang, pasti akan terasa sangat mudah untuk dilakukan.
 Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya kami merasa lega sudah sampai pada tujuan kami yaitu di sendang Bunton. Selesai beristirahat sebanyak 10 kali, kami beristirahat untuk yang terakhir setelah sampai di Bunton. Kami istirahat di tempat peristirahatan yang telah disediakan sambil menikmati makanan kecil yang kami bawa dari rumah. Udara disana sejuk dan dingin. Sampai-sampai ada pengunjung lain yang tidur berselimut dengan nyamannya meskipun hari itu masih pagi. Setelah cukup beristirahat kami segera menuju ke sendang Bunton yang merupakan mata air Kali Gelis. Kali Gelis adalah salah satu sungai yang terdapat di Kudus. Air dari sendang Bunton ini mengalir menuju Kali Gelis. Sendang ini dimanfaatkan oleh pengunjung untuk mandi. Disamping mata air tersebut dibuat sebuah gapura. Namun kami tidak tahu jelas untuk apa fungsinya. Mungkin gapura tersebut memiliki fungsi tersendiri bagi beberapa pengunjung. Disekitar mata air juga nampak bunga-bunga wangian bekas pengunjung yang mandi disana. Dari mata air Bunton, air dialirkan menuju tempat pemandian yang ada di bawahnya dan air dari pemandian tersebut dibiarkan mengalir menuju sungai-sungai kecil dibawahnya hingga sampai ke Kali Gelis. Jadi kami baru menyadari jika air Kali Gelis berasal dari air bekas orang-orang yang mandi disana. Namun, tetap saja air dari Kali Gelis jernih dan bersih karena juga sudah melewati proses penyaringan alam oleh tanah. Mata air Bunton ini memiliki diameter sekitar 1 meter. Jadi tidak terlalu luas, namun air yang mengalir cukup deras.
Tanpa menunggu lama kami pun bergantian untuk mandi dari mata air Bunton tersebut  meskipun sebelumnya kami sudah mandi pagi di rumah masing-masing sebelum berangkat kesana.  Karena terdapat pengunjung lain yang juga ingin mandi kami pun rela antri menunggu giliran. Ada salah satu teman kami yang tidak ingin mandi. Sudah beberapa kali kami mengajaknya untuk mandi tetapi ia tetap saja tidak mau. Beberapa kali pun kami mencoba membujuknya namun sia-sia saja. Akhirnya kami pun membiarkannya tidak mandi dari mata air Bunton langsung. Sesudah mandi kami menikmati mie rebus dan teh hangat bersama. Udaranya pun semakin dingin. Hal ini dikarenakan semakin tinggi dataran, suhu semakin turun.
Banyak pepohonan disana yang sudah besar diantaranya beringin, meranak, kelengkeng, dan kapuk. Menurut cerita pohon meranak adalah pohon yang dikeramatkan. Mengapa dinamakan pohon meranak? Karena menurut kepercayaan masyarakat Jawa kuno barang siapa yang memegang pohon tersebut dipercaya akan memperoleh keturunan yang banyak. Banyak masyarakat yang percaya dengan hal tersebut bahkan sebagian terbukti. Ada seseorang yang sulit mendapatkan keturunan dan setelah memegang pohon meranak ia pun akhirnya dapat memperoleh keturunan. Disana juga terdapat pohon kopi, pakis haji, pisang, nangka, bunga gading serta cabai khas Rahtawu yang pedasnya menggiurkan.  Satwa yang ada diantaranya elang hitam, monyet, dan lutung. Tetapi selama perjalanan kami belum menjumpainya.
Setelah merasa cukup puas menikmati wisata sendang Bunton, kami memutuskan untuk kembali pulang. Sebelum itu kami juga mengambil beberapa foto. Jika sebelumnya kami naik gunung, kini tiba saatnya kami turun gunung. Tentunya perjalanan ini lebih mudah dari yang sebelumnya. Di perjalanan menuruni gunung, kami menjumpai seekor laba-laba yang ukurannya cukup besar sedang berdiam di sarangnya. Kami membuat sebuah percobaan tentang tingkat kecerdasan dan kepekaan laba-laba terhadap rangsang. Kami pun melempar dedaunan kering ke sarang laba-laba tersebut. Karena lengket dan kuatnya sarang laba-laba tersebut membuat dedaunan itu melekat dan menempel pada sarangnya. Dengan cepat laba-laba tersebut merespon dedaunan kering itu. Ini artinya tingkat kepekaan laba-laba terhadap rangsang tinggi. Diraba dan diamati olehnya lalu dengan segera laba-laba tersebut membuangnya. Karena dedaunan kering bukanlah makanannya, maka laba-laba tersebut akan membuangnya. Sedangkan jika yang mendekati sarangnya adalah hewan seperti capung, kupu-kupu, serangga dan hewan kecil lainnya yang merupakan makanannya, ia akan dengan sigap dan lahap menghabiskannya. Hal ini menunjukkan bahwa laba-laba cukup cerdas dalam memilih makanannya. Pantas saja jika sarang laba-laba selalu nampak bersih tanpa ada kotoran sekecilpun. Ternyata laba-laba juga pandai menjaga kebersihan sarangnya ya…
Tak berapa lama kemudian kami pun sudah sampai di bawah. Waktu yang diperlukan untuk turun gunung lebih singkat dibandingkan dengan naik gunung. Kami juga tidak merasa lelah sedikitpun. Kemudian kami bertemu dengan para pengunjung lain dari luar kota yang juga turun gunung. Kami pun menyapa dan memberi salam kepada mereka. Senangnya kami mengetahui bahwa obyek-obyek wisata di Kudus banyak menarik minat wisatawan dari luar kota untuk berkunjung kesana.
Bagi teman-teman yang penasaran dan ingin tahu bagaimana sendang Bunton itu silakan berkunjung kesana. Teman-teman akan merasakan kepuasan setelah mencoba mandi langsung dari mata air Bunton. Apa lagi perjalanan menuju kesana sangat menyenangkan dengan mendaki gunung sambil menikmati pemandangan alam Kota Kudus.

Terima kasih sudah membaca artikel diatas. Apabila ada kesalahan penulisan atau informasi harap beri kritik dan saran pada komentar. Sampai jumpa di artikel berikutnya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar