Hai teman-teman! Terima kasih sudah mengunjungi blog ku. Selamat
datang di artikelku yang pertama. Sebagai pembuka, kali ini aku akan berbagi
sebuah pengalaman menarikku. Semoga dengan membaca artikel ini dapat menambah
wawasan dan pengetahuan teman-teman. Selamat membaca…^_*
Kota
Kudus terkenal dengan sebutan kota Kretek(rokok). Ya, tak asing lagi karena kota Kudus
merupakan penghasil rokok terbesar di Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan Kudus kaya
akan hasil alam, salah satunya adalah tembakau yang merupakan bahan dasar dari
pembuatan rokok. Produksi rokok ini sangat mendukung perekonomian kota Kudus. Tak
hanya itu kota Kudus juga memiliki pesona alam yang indah. Letak geografis kota
Kudus yang dikelilingi oleh wilayah pegunungan mengakibatkan kota ini kaya akan
wisata alam yang menakjubkan. Kota yang terkenal dengan Menara Kudus-nya ini
memiliki banyak tempat wisata yang menarik dan cukup populer dikalangan
masyarakat Kudus sendiri dan sekitarnya. Banyaknya obyek wisata di Kudus ini
juga memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat Kudus.
Pagi yang cerah mengawali hari
kami yang penuh ceria. Kami anak-anak Omah Dongeng Marwah mengadakan perjalanan
ke Rahtawu. Tepatnya ke Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten
Kudus. Wisata alam yang terkenal dari Rahtawu adalah puncak songolikur(29) yang
ketinggiannya mencapai ± 1602 mdpal. Dari atas puncak ini kita dapat menikmati
panorama alam kota Kudus yang indah dengan udaranya yang sejuk dan segar.
Gunung Rahtawu ini memiliki beberapa mata air yaitu sendang Pakel, Banyu Umub,
dan sendang Bunton yang menjadi tujuan kami. Kami memulai perjalanan dari rumah sekitar
pukul 6 pagi. Jika berangkat dari alun-alun simpang 7 akan menempuh waktu
kurang lebih 90 menit. Kami berangkat kesana menggunakan sepeda motor.
Senangnya hati kami menikmati perjalanan panjang tersebut sambil memandangi
alam kota kecil dan padat yang indah ini. Saat
memasuki wilayah desa Rahtawu, kita akan dikenai biaya sebesar 2000
rupiah per orang guna pembangunan dan perawatan obyek wisata di Rahtawu. Sampailah
kami di Rahtawu pada pukul 7 lebih seperempat. Namun perjalanan kami tidak berhenti disini.
Kami harus mendaki gunung Rahtawu yang merupakan perbatasan kota Kudus dan
Jepara.
Kami berangkat dari Dukuh Semliro
menuju puncak gunung Rahtawu. Sebelum itu kita akan dikenai biaya sebesar 2000
rupiah per orang. Kami pun mulai berjalan dengan langkah-langkah kaki penuh
semangat. Diperjalanan menuju puncak kami melihat banyak pepohonan dan perkebunan
serta warga sekitar Rahtawu yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai
petani. Tidak heran lagi karena daerah dataran tinggi seperti ini sangat cocok
untuk digunakan sebagai lahan perkebunan yang telah menjadi sumber penghasilan
bagi warga sekitar. Tanaman yang terdapat disana diantaranya adalah kopi yang
memang merupakan tanaman yang bisa hidup di daerah dengan udara yang sejuk.
Selain itu terdapat padi, jagung, ketela, dll.
Menit demi menit kami lalui.
Namun perjalanan kami menuju puncak masih cukup panjang. Sedangkan kaki kami
pun sudah mulai lelah untuk melangkah. Akhirnya kami memutuskan untuk
beristirahat sejenak sembari menarik napas menghirup udara pegunungan yang
sejuk. Sesekali kami mengambil beberapa gambar pemandangan alam dan berfoto
bersama. Namun ini masih belum seberapa. Nantinya kami akan merasakan kepuasan
yang sesungguhnya ketika sampai di tujuan. Jalanan yang cukup sempit membuat
kami sering kali berhenti sejenak dan menepi ketika harus berpapasan dengan
pengendara motor yang membawa hasil panen baik yang akan naik gunung maupun turun gunung. Kami pun harus bisa
berbagi dan bersabar. Sesekali kami pun menyapa warga sekitar. Kami membalas
keramahan mereka dengan senyum perkenalan. Keramahan dan kesopanan mereka
membuktikan bahwa masyarakat Kudus memang sangat ramah dan sopan.
Daerah Rahtawu memang dianggap
sebagai tempat yang dikeramatkan karena konon kisahnya daerah gunung Rahtawu
menjadi tempat bertapanya para dewa yang merupakan leluhur Pandawa. Oleh karena
itu di sepanjang perjalanan kami juga banyak menjumpai petilasan atau tempat
pertapaan dengan mengambil nama tokoh-tokoh pewayangan Jawa yang hingga saat
ini masih digunakan.
Di perjalanan kami sering
menjumpai hewan-hewan kecil seperti ulat, laba-laba, dan kaki seribu. Tidak
mengherankan lagi karena kita berada di alam liar. Jadi, ketika kita berada di
alam liar seperti di pegunungan yang dikelilingi dengan hutan kita perlu
berhati-hati dan waspada dengan keadaan sekitar. Namun kita juga tetap harus
menjaga tanpa merusak alam ataupun mengganggu satwa dan makhluk hidup disana. Satu
lagi yang tidak seperti biasanya kami lihat yaitu jenis siput dengan ukuran
cangkang yang hanya sebesar biji jagung dan badan yang panjang membentuk ekor
namun berlendir. Tetapi kami tidak tahu apa jenis siput tersebut. Yang pasti
kecil namun cantik dan lucu.
Kami mampir sejenak ke sebuah
warung yang berupa gubuk kecil. Kami membeli beberapa gorengan hangat dan makan
bersama. Rasa letih kami pun perlahan mulai hilang. Di sepanjang istirahat,
kami berjumpa dengan para pendaki yang baru saja selesai berkemah dan akan
turun gunung. Tampak dari raut wajah mereka yang gembira habis dari puncak
membuat kami semakin tidak sabar untuk sampai kesana. Kini energi dan semangat
kami sudah bertambah. Saatnya kami melanjutkan perjalanan yang tinggal setengah
lagi.
Senangnya hati kami ketika hampir
sampai ke tempat tujuan. Kami semakin dekat dan hampir menggapai awan putih
yang membentang di langit. Pemandangan alam sekitar pun semakin indah. Tak lupa
kami mengabadikannya dengan berfoto bersama. Saat itu, ada salah satu kawan
kami yang hampir saja jatuh ke jurang ketika akan mengambil foto. Syukur ia
sempat berpegangan dengan rumput disampingnya sehingga ia tidak jadi jatuh ke
jurang. Oleh karena itu kita juga harus berhati-hati, jangan sampai kesenangan mengantarkan
kita dalam bahaya. Salah satu teman kami yang lain juga sudah menegeluh karena
lelah. Dari awal perjalanan ia terus saja mengeluh bahkan ketika sampai di
separuh perjalanan ia justru ingin kembali pulang. Ini tentunya tidak baik
untuk ditiru. Jika kita mengerjakan sesuatu dengan disertai keluh kesah
pekerjaan akan terasa sangat berat dilakukan. Sebaliknya jika kita mengerjakan
dengan ikhlas disertai rasa senang, pasti akan terasa sangat mudah untuk
dilakukan.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang
dan melelahkan akhirnya kami merasa lega sudah sampai pada tujuan kami yaitu di
sendang Bunton. Selesai beristirahat sebanyak 10 kali, kami beristirahat untuk
yang terakhir setelah sampai di Bunton. Kami istirahat di tempat peristirahatan
yang telah disediakan sambil menikmati makanan kecil yang kami bawa dari rumah.
Udara disana sejuk dan dingin. Sampai-sampai ada pengunjung lain yang tidur
berselimut dengan nyamannya meskipun hari itu masih pagi. Setelah cukup
beristirahat kami segera menuju ke sendang Bunton yang merupakan mata air Kali
Gelis. Kali Gelis adalah salah satu sungai yang terdapat di Kudus. Air dari
sendang Bunton ini mengalir menuju Kali Gelis. Sendang ini dimanfaatkan oleh
pengunjung untuk mandi. Disamping mata air tersebut dibuat sebuah gapura. Namun
kami tidak tahu jelas untuk apa fungsinya. Mungkin gapura tersebut memiliki
fungsi tersendiri bagi beberapa pengunjung. Disekitar mata air juga nampak
bunga-bunga wangian bekas pengunjung yang mandi disana. Dari mata air Bunton,
air dialirkan menuju tempat pemandian yang ada di bawahnya dan air dari pemandian
tersebut dibiarkan mengalir menuju sungai-sungai kecil dibawahnya hingga sampai
ke Kali Gelis. Jadi kami baru menyadari jika air Kali Gelis berasal dari air
bekas orang-orang yang mandi disana. Namun, tetap saja air dari Kali Gelis
jernih dan bersih karena juga sudah melewati proses penyaringan alam oleh
tanah. Mata air Bunton ini memiliki diameter sekitar 1 meter. Jadi tidak
terlalu luas, namun air yang mengalir cukup deras.
Tanpa menunggu lama kami pun
bergantian untuk mandi dari mata air Bunton tersebut meskipun sebelumnya kami sudah mandi pagi di
rumah masing-masing sebelum berangkat kesana. Karena terdapat pengunjung lain yang juga ingin
mandi kami pun rela antri menunggu giliran. Ada salah satu teman kami yang
tidak ingin mandi. Sudah beberapa kali kami mengajaknya untuk mandi tetapi ia
tetap saja tidak mau. Beberapa kali pun kami mencoba membujuknya namun sia-sia
saja. Akhirnya kami pun membiarkannya tidak mandi dari mata air Bunton
langsung. Sesudah mandi kami menikmati mie rebus dan teh hangat bersama.
Udaranya pun semakin dingin. Hal ini dikarenakan semakin tinggi dataran, suhu
semakin turun.
Banyak pepohonan disana yang
sudah besar diantaranya beringin, meranak, kelengkeng, dan kapuk. Menurut
cerita pohon meranak adalah pohon yang dikeramatkan. Mengapa dinamakan pohon
meranak? Karena menurut kepercayaan masyarakat Jawa kuno barang siapa yang
memegang pohon tersebut dipercaya akan memperoleh keturunan yang banyak. Banyak
masyarakat yang percaya dengan hal tersebut bahkan sebagian terbukti. Ada
seseorang yang sulit mendapatkan keturunan dan setelah memegang pohon meranak ia
pun akhirnya dapat memperoleh keturunan. Disana juga terdapat pohon kopi, pakis
haji, pisang, nangka, bunga gading serta cabai khas Rahtawu yang pedasnya
menggiurkan. Satwa yang ada diantaranya
elang hitam, monyet, dan lutung. Tetapi selama perjalanan kami belum
menjumpainya.
Setelah merasa cukup puas
menikmati wisata sendang Bunton, kami memutuskan untuk kembali pulang. Sebelum
itu kami juga mengambil beberapa foto. Jika sebelumnya kami naik gunung, kini
tiba saatnya kami turun gunung. Tentunya perjalanan ini lebih mudah dari yang
sebelumnya. Di perjalanan menuruni gunung, kami menjumpai seekor laba-laba yang
ukurannya cukup besar sedang berdiam di sarangnya. Kami membuat sebuah
percobaan tentang tingkat kecerdasan dan kepekaan laba-laba terhadap rangsang.
Kami pun melempar dedaunan kering ke sarang laba-laba tersebut. Karena lengket
dan kuatnya sarang laba-laba tersebut membuat dedaunan itu melekat dan menempel
pada sarangnya. Dengan cepat laba-laba tersebut merespon dedaunan kering itu. Ini
artinya tingkat kepekaan laba-laba terhadap rangsang tinggi. Diraba dan diamati
olehnya lalu dengan segera laba-laba tersebut membuangnya. Karena dedaunan
kering bukanlah makanannya, maka laba-laba tersebut akan membuangnya. Sedangkan
jika yang mendekati sarangnya adalah hewan seperti capung, kupu-kupu, serangga
dan hewan kecil lainnya yang merupakan makanannya, ia akan dengan sigap dan
lahap menghabiskannya. Hal ini menunjukkan bahwa laba-laba cukup cerdas dalam
memilih makanannya. Pantas saja jika sarang laba-laba selalu nampak bersih
tanpa ada kotoran sekecilpun. Ternyata laba-laba juga pandai menjaga kebersihan
sarangnya ya…
Tak berapa lama kemudian kami pun
sudah sampai di bawah. Waktu yang diperlukan untuk turun gunung lebih singkat
dibandingkan dengan naik gunung. Kami juga tidak merasa lelah sedikitpun.
Kemudian kami bertemu dengan para pengunjung lain dari luar kota yang juga
turun gunung. Kami pun menyapa dan memberi salam kepada mereka. Senangnya kami
mengetahui bahwa obyek-obyek wisata di Kudus banyak menarik minat wisatawan
dari luar kota untuk berkunjung kesana.
Bagi teman-teman yang penasaran dan ingin tahu bagaimana sendang Bunton itu silakan berkunjung kesana. Teman-teman akan merasakan kepuasan setelah mencoba mandi langsung dari mata air Bunton. Apa lagi perjalanan menuju kesana sangat menyenangkan dengan mendaki gunung sambil menikmati pemandangan alam Kota Kudus.
Terima kasih sudah membaca artikel diatas. Apabila ada kesalahan penulisan atau informasi harap beri kritik dan saran pada komentar. Sampai jumpa di artikel berikutnya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar